Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Adu Mewah Garasi Ronaldo, Messi, dan Rooney

Tak hanya piawai mengolah si kulit bundar di lapangan hijau, ketiga pesepakbola  ini juga dikenal karena koleksi mobil-mobil mewah yang parkir di garasi mereka.

Untuk Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Wayne Rooney harga mobil dengan banderol selangit tampaknya tidak bakal membuat dahi berkerut.  Dengan gaji miliaran setiap pekan, sungguh wajar bila ketiganya rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah demi mendapatkan sebuah tunggangan yang eksotis.

Pertarungan ketiganya dalam soal koleksi mobil mewah, laiknya seperti mengadu cekatan di lapangan. Diawali dengan koleksi penyerang asal klub kaya di Spanyol, Real Madrid, Cristiano Ronaldo.



Cristiano Ronaldo
Ronaldo memiliki sedikitnya 8 mobil supermewah. Mulai dari Bugatti Veyron, Rolls-Royce Pahntom Drophead Coupe, Porsche Cayenne Diesel, BMW M6, Porsche 911, Bentely Continental GT, Ferrari F430, dan Audi R8.

Bugatti Veyron adalah salah satu mobil terdahsyat yang dimiliki Ronaldo, Mobil tercepat dan termahal di muka bumi ini, memiliki kecepatan maksimal hingga 360 km/jam. Mobil yang dipersenajati mesin 8.000 cc 16 silinder quad-turbocharged dan bertenaga 1.001 PS, dihargai US$1,2 juta atau sekitar Rp10,8 miliar.

Tak kalah fenomenal, pria berkebangsaan portugal ini juga memiliki Rolls-Royce Phantom Drophead Coupe. Yang menakjubkan adalah di dalam bagasi mobil ini terdapat sebuah picnic boot. Ketika bagasi dibuka, maka akan keluar sebuah lemari otomatis yang menyimpan beberapa botol champagne dan perlengkapan piknik lainnya. Harga mobil ini mencapai US$443.000 atau sekitar Rp4 miliar.


Lionel Messi
Striker bertubuh mungil yang bermain di club Barcelona juga tidak mau kalah. Memang koleksi Messi belum sebanyak rival utamanya Ronaldo.

Pria asal Argentina ini memiliki beberapa koleksi mobil, seperti Ferrari 360 Spider, Dodge Charger SRT8, dan Audi Q7.

Pilihan Messi memilih Audi Q7 sangatlah beralasan. Mobil tipe SUV (Sport Utility Vehicle) ini mengusung mesin bensin V6 berkapasitas 3.000 cc, supercharger. Tenaga puncak 272 hp pada 4.750-6.500 rpm dan torsi 400 Nm pada 2.250 rpm.

Konsumsi bensinnya 10,7 liter setiap 100 km, sedangkan kecepatan maksimalnya 225 km/jam. Audi Q7 dapat berakselerasi 0-100 k/jam dalam 7,9 detik.

Sedangkan Ferrari 360 Spider merupakan mobil sport yang agresif. Dari aspek performa, mobil ini dilengkapi mesin V8 berkapasitas 3.600 cc V8 yang menghasilkan daya 400 HP dan torsi 373 Nm.

'Kuda Jingrak' ini bisa berlari dari diam sampai kecepatan 100 kilometer per jam dalam 4,6 detik dengan kecepatan maksimum 291 km per jam.
 
Wayne Rooney
Pemain bergaji Rp2,78 miliar sepekan ini dikenal suka betul pada mobil mewah. Di garasi penyerang Manchester United itu terdapat 20 mobil mewah.

Antara lain Lamborghini Gallardo Spyder, Porshe 911, Audi TT, Cadillac Escalade, Mercedes CLK, Bentley Continental GTC Speed, dan Range Rover Supercharge.

Soal kecepatan Rooney, mempercayakan supercar 'Banteng Tempur' dari Italia, Lamborghini Gallardo Spyder. Mobil berdesain mewah, aerodinamis, dan eksotis ini digerakkan mesin 5,2 liter V10.

Dengan bobot 190 kg, Gallardo Spyder mampu menghasilkan 560 tenaga kuda. Kecepatan 0-60 km/jam bisa ia tempuh hanya dalam waktu 4 detik. Dengan kecepatan maksimal mencapai 201 km/jam.

Adapun untuk mobil lainnya, suami Coleen McLoughlin, memilih sedan mewah Inggris, Bentley Continental GTC Speed.

Mobil yang sudah mengadopsi four-wheel driving system ini, mempunyai kecepatan maksimal 318 km/jam dan mampu melaju 0-100 km/jam hanya dalam waktu 4.8 detik.

Sumber: Autoblog, Daily Mail, The Sun

Bursa Transfer Januari Kompak 'Sepi' Kejutan

Nama striker Manchester City, Carlos Tevez menjadi pusat perhatian selama bursa transfer Januari 2012. Berpotensi menjadi kejutan dalam bursa transfer pertengahan musim, Tevez akhirnya memilih bertahan di Etihad Stadium sekaligus menutup cerita bursa transfer kali ini dengan lesu.

Dengan tertutupnya peluang Tevez hengkang itu, maka tak ada perpindahan pemain yang pantas disebut sebagai sebuah 'kejutan'. Lesunya bursa transfer pemain di musim dingin ini ternyata sangat merata di liga-liga terbaik Eropa macam Premier League, Serie A dan La Liga.

Untuk menengok lesunya bursa transfer Januari ini, tentu tak salah memilih Premier League sebagai barometer. Sebab, kompetisi di daratan Inggris ini dihuni tim-tim yang relatif merata secara finansial dan selalu menghadirkan gairah dalam melakukan tambal sulam pemain karena ketatnya persaingan.

Pada bursa transfer Januari ini, total klub-klub Premier League hanya menghabiskan dana sebesar 78 juta. Jumlah yang tentu sangat sedikit dibanding bursa transfer musim panas tahun lalu. Musim panas lalu saja, kepindahan Fernando Torres dari Liverpool ke Chelsea senilai 60 juta.

Di pentas Premier League, nama Papiss Cisse menjadi pemain termahal yang didatangkan pada bursa transfer musim panas. Newcastle United mendatangkan striker timnas Senegal berusia 24 tahun ini dari klub Bundesliga, Freiburg senilai hampir 12 juta. Ia dipersiapkan sebagai tandem striker subur The Magpies, Demba Ba.

Chelsea menjadi klub yang paling besar mengeluarkan dana di bursa transfer ini. Klub milik Roman Abramovich ini total mengeluarkan dana sebesar 18,5 juta untuk mendatangkan striker Patrick Bamford dari Nottingham Forrest (2 juta), gelandang Kevin De Bruyne dari Genk (8 juta) dan bek Gary Cahill dari Bolton Wanderers (8,5 juta).

Diikuti tim promosi Queens Park Ragers (QPR) dengan total 12,8 juta untuk mendapatkan Bobby Zamora dari Fulham (4,8 juta), Nedum Onuoha dari Manchester City (3 juta) dan Djibril Cisse dari Lazio (5 juta). Sedangkan tim-tim raksasa Premier League macam duo Manchester, City dan United, Arsenal dan Tottenham Hotspur terbilang tak aktif kali ini.

Arsenal hanya mendatangkan gelandang Thomas Eisfeld dari Borussia Dortmund senilai 500 ribu. Sedangkan MU mendatangkan bek Frederic Veseli dari Manchester City yang nilai transfernya masih dirahasiakan. ManCity lebih kalem dengan hanya meminjam gelandang veteran AS Roma, David Pizarro.

"David Pizarro adalah pemain yang sangat berkualitas. Saya pikir dia bisa membantu kami dalam tiga bulan ke depan karena sekarang kami mulai bermain setiap tiga hari. Dan, mungkin kami bisa mengistirahatkan pemain lain yang telah bermain sepanjang musim," kata Mancini seperti dilansir Football Italia.

Real Madrid dan Barcelona Jaim

Lesunya bursa transfer Januari juga terasa di La Liga, Spanyol. Real Madrid dan Barcelona benar-benar membuang kesempatan di bursa transfer musim dingin ini. Tak satupun pemain didatangkan dua klub elit Spanyol ini. Saling jaga image tampaknya menjadi alasan logis dua klub musuh bebuyutan ini untuk sama-sama melewatkan bursa transfer pemain.

Nama-nama yang sempat ramai dikabarkan akan dibuang oleh kedua klub akhirnya juga tak terbukti. Gelandang muda Thiago Alcantara tetap tak dilepas Barcelona meski diminati lusinan klub dan striker Gonzalo Higuain juga masih dipercaya oleh entrenador Jose Mourinho di Santiago Bernabeu.

Justru Sevilla yang menjadi klub paling eksis dalam bursa transfer kali ini. Guna mendatangkan penyerang Baba Diawara dari Maritimo, gelandang Javier Hervas dari Cordoba dan Jose Antonio Reyes dari Atletico Madrid, Sevilla mengucurkan dana sebesar 8 juta.

Selain Sevilla, klub Espanyol, Granada, Real Zaragoza dan Rayo Vallecano juga terbilang aktif meski mayoritas pemain-pemain didatangkan dengan status pinjaman bahkan gratis.

Thiago Motta Paling 'Mengejutkan'
Tiga kekuatan Serie A yakni Internazionale Milan, AC Milan dan Juventus juga ikut berbenah dalam bursa transfer musim dingin ini meski terbilang juga tak menghadirkan banyak kejutan.

AC Milan menjadi yang paling aktif dengan mendatangkan enam pemain anyar pada Januari ini meski mayoritas berstatus pinjaman. Sulley Muntari dipinjam dari Inter, Djamel Mesbah diboyong dari Lecce, Maxi Lopez dipinjam dari Catania, Lucas Roggia dipinjam dari Internacional, Philipp Prosenik didatangkan dari Chelsea, dan Alexander Merkel dipinjam dari Genoa.

Justru Genoa yang terbilang paling boros pada bursa transfer kali ini. Klub medioker Serie A ini mendatangkan penyerang Alberto Gilardino dari Fiorentina senilai 7,5 juta dan penyerang Ciro Immobile dari Juventus dengan nilai transfer 8 juta.

Sedangkan Inter Milan mendatangkan tiga amunisi anyar yakni Juan Jesus dari Internacional dengan nilai transfer 4 juta, Angelo Palombo dipinjam dari Sampdoria dan Fredy Guarin dipinjam dari FC Porto. Namun yang mengejutkan tentu keputusan Inter melepas Thiago Motta ke PSG dengan nilai transfer 10 juta. Padahal, Motta menjadi salah satu pilar kesuksesan Inter meraih treble pada 2010 lalu.

Namun keputusan Claudio Ranieri melepas Motta ini ternyata ditanggapi positif oleh Massimo Moratti. Presiden Inter Milan ini menganggap keputusan sang pelatih sebagai hal yang tepat dan layak diberi angka 10. "Kami harus menjual Thiago Motta karena itulah yang dia inginkan. Ini adalah operasi yang bagus bagi kami," kata Moratti.

Juventus juga sedikit melakukan tambal sulam. Simone Padoin didatangkan Si Nyonya Tua dari Atalanta dengna nilai transfer 5 juta. Sedangkan Martin Caceres kembali dipinjam dari Sevilla setelah sempat dipinjam saat masih berkostum Barcelona.

Napoli juga sempat membuat gebrakan dengan mendatangkan pemain 'kurang ternama' Eduardo Vargas dengan nilai transfer 13 juta dari Universidad de Chile. Ini menjadi nilai transfer tertinggi yang dilakukan klub Serie A pada periode musim dingin kali ini.
Jika berbicara keseluruhan transfer pemain di Eropa pada Januari ini, nama Balazs Dzsudzsak menjadi yang termahal. Dinamo Moscow mendatangkan pemain timnas Hungaria ini dari Anzhi Makhachkala senilai 15 juta.

Oezil Ikrarkan Sumpah Setia Bersama Madrid

Mesut Oezil punya ambisi menutup karir sepakbolanya bersama Real Madrid. Ironinya, Oezil menjadi salah satu pemain yang sempat dikabarkan akan hengkang dari Santiago Bernabeu pada akhir 2011 lalu.

Oezil tampaknya telah dibuat jatuh cinta di klub ibu kota Spanyol itu. Hal itu dibuktikan dengan ikrar punggawa timnas Jerman ini untuk tetap setia bersama Los Blancos. Oezil didatangkan entrenador Jose Mourinho dari klub Bundesliga, Werder Bremen setelah tampil memikat pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.
Kini gelandang 23 tahun ini selalu menjadi pilihan Mourinho di skuad utama Madrid. Bahkan saat ia harus bersaing dengan nama-nama besar macam Ricardo Kaka. Nyaman di Madrid, membuat Oezil tak sungkan beberkan ambisinya.

"Saya ingin mengakhiri karir saya di Real Madrid. Saya tahu itu bahwa masih banyak tahun ke depan dan itu akan sangat sulit," kata Oezil kepada Kicker, Kamis 2 Februari 2012.

"Klub akan mendatangkan banyak pemain bintang dalam beberapa tahun ke depan tapi saya ingin menjadi bagian dari masa depan klub ini. Saya tahu dapat melakukan itu dan saya yakin saya akan tetap bertahan di Madrid dalam beberapa tahun ke depan," beber Oezil.

Oezil memang sempat terancam kehilangan tempatnya di akhir 2011 lalu, namun bintang lini tengah Der Panzer ini mampu kembali membuat Mourinho jatuh cinta. Kerja keras dan terus belajar menjadi kunci Oezil kembali ke performa terbaiknya.

"Ketika Anda berada di Real Madrid, Anda akan menuai kritikan jika hanya bermain di level yang biasa-biasa saja. Saya belajar dari itu. Itu membuat saya lebih kuat. Saya telah menjadi lebih pintar di lapangan," lanjut Oezil.

Dalam kesempatan itu, Oezil juga sangat yakin Real Madrid akan mampu menjadi kampiun di La Liga musim ini. "Jika kami dapat bermain seperti yang kami lakukan sekarang, kami tidak akan dapat disalip," pungkas Oezil.

Di klasemen La Liga saat ini, Madrid unggul tujuh poin dari sang juara bertahan Barcelona. Banyak kalangan yang kini yakin Madrid akan lebih superior dibanding Blaugrana.

Selasa, 31 Januari 2012

KALAH DI EL-CLASICO,SUDAH PANTASKAH REAL MADRID JUARA LA LIGA SPANYOL?

Di tahun yang berbeda, di musim yang baru dan di edisi el Clasico yang lainnya, lagi-lagi Real Madrid belum bisa meruntuhkan hegemoni Barcelona. Yang terbaru, tentu saja di laga Copa del Rey kemarin yang (lagi) berakhir dengan kemenangan Barcelona 2-1 atas pasukan Jose Mourinho. Satu pertanyaan besar yang kini mulai mengudara di benak publik: Ada apa dengan Los Blancos versi garapan Mourinho kala bersua dengan armada Josep Guardiola? Madrid seperti terkena sindrom deja-vu ketika bertarung dengan Lionel Messi cs. Sempat lebih dulu memimpin melalui gol Cristiano Ronaldo, namun pada akhirnya gawang Madrid bobol juga oleh aksi Carles Puyol dan Eric Abidal untuk memastikan pesta kemenangan Barca di Santiago Bernabeu. Ini jelas mengingatkan kita pada Clasico di bulan Desember kemarin. Unggul lebih dulu, akan tetapi Barca memberikan kejutan luar biasa di babak kedua. Lalu bagaimanakah selanjutnya nasib Mourinho? Sekedar kilas balik, mantan pelatih Inter itu didatangkan oleh Madrid dengan diberi misi khusus, yakni menghentikan dominasi Barcelona di La Liga Spanyol maupun di Eropa. Berbekal rajutan treble-winners bersama Inter, pria Portugal itu pun dikontrak untuk menahkodai klub bertabur bintang ini. Namun setelah melewati sembilan bentrokan terakhir di bawah kepelatihannya, tangan dingin Mourinho tak lebih baik dari pelatih-pelatih Madrid sebelumnya. Pertanyaan menarik kemudian muncul: sekalipun Madrid (katakanlah) berhasil mengklaim trofi La Liga, apakah itu cukup untuk menyelamatkan karier Mourinho di Bernabeu? Tentu nilai prestise mengalahkan Barca boleh jadi maknanya lebih krusial bagi para loyalis Los Blancos. Di serial Clasico jilid pertama Mourinho, sang pelatih harus puas dibuat beribu malu kala timnya diporakporandakan Barca 5-0. Tapi catatan negatif itu paling tidak bisa dibayar ketika Madrid sukses menganjung trofi Copa del Rey pada April tahun lalu. Kendati begitu, Copa, bila dibandingkan dengan gelar La Liga dan Liga Champions, bisa dikatakan berada di kasta ketiga. Yah, Madrid harus rela melihat Barca merebut dua gelar bergengsi itu musim kemarin. Semestinya, di musim kedua Mourinho menjabat sebagai juru racik Madrid, sekurangnya bisa membuat Barca bungkam.

Memang, kini mereka masih menguasai tahta klasemen liga untuk sementara waktu berkat konsistensi melahap musuh-musuh lainnya selain Los Blaugrana. Akan tapi sejauh kita melihat perduelan di antara kedua raksasa Spanyol ini, Mourinho acapkali gigit jari di akhir pertandingan. Mimpi buruk Kampanye 2011/12 bagi Madrid dimulai ketika duel dengan Barca di pentas Spanish Supercopa. Mengantungi performa mengilap selama menjalani pra musim dibanding rivalnya itu, jelas memberi sinyal ancaman pada Barca. Namun, tetap saja pada akhirnya Xavi dkk. berhasil mempersembahkan gelar Supercopa dengan kemenangan agregat 5-4 di dua leg. Momen tidak manis itu segera dilupakan anak-anak Mourinho, sampai akhirnya kembali mereka bertemu di ajang liga pada Desember lalu di Bernabeu. Di kesempatan ini, selain membawa misi balas dendam, bila Madrid menang mereka sejatinya bakal menutup kesenjangan dengan Barca menjadi sembilan poin. Namun, kendati sempat unggul cepat di detik 22, Madrid kembali harus mengakui superioritas Barca yang menang secara heroik 3-1. Yah, Barca bak momok menakutkan bagi Madrid. Sokongan suara suporter sendiri pun seperti tidak menggambarkan kalau suasana stadion kebanggaan mereka itu angker bagi sang rival abadi. Kisah yang sama terjadi di laga Clasico terakhir kemarin. Wujud frustrasi terlihat dari pihak Madrid dengan menggemanya cemoohan dari fans mereka sendiri karena menyaksikan tim kesayangannya tak bisa berbuat banyak di kaki Barca. Di ruangan pers pasca pertandingan, Mourinho mengakui dirinya lah orang yang paling bertanggung jawab atas kekalahan 2-1 itu. Tidak banyak celotehan, gerutu, atau alasan-alasan yang biasa dilontarkan sang juru taktik kala timnya kalah dari Barca. Kali ini Mourinho benar-benar bungkam seribu bahasa. Ia juga mengakui mendengar suara-suara sumbang dari tifosi Madrid lantaran ketidakberdayaan timnya di hadapan Barca. Bahkan koran kenamaan Spanyol. Marca, menulis headline mereka dengan judul "Mourinho, Anda tidak akan bisa berbuat banyak". Harian lokal itu juga mempublikasikan sebuah video di mana fans El Real berteriak-teriak meminta pelatih asal Portugal itu untuk segera meletakkan jabatannya. Mourinho pun berpesan, bagaimanapun hasil negatif yang telah berlalu, segera harus dilupakan dan kembali fokus pada pertandingan liga akhir pekan ini. Target juara liga Spanyol tetap menjadi prioritas sang pelatih. Namun ketika ditanya apakah gelar itu akan membuatnya bahagia tanpa bisa mengalahkan Barca? Mourinho dengan enteng menjawab "Ya, tidak masalah, saya merasa senang-senang saja tuh". Madrid saat ini masih memimpin perburuan gelar La Liga dengan keunggulan tujuh poin atas Barca dari 20 pertandingan yang telah dilalui.
Meski katakanlah Barca kembali mengalahkan Madrid di perjumpaan liga paruh kedua musim ini, artinya poin si Putih masih unggul empat angka. Namun bila menilik serangkaian catatan di atas, Barca sepertinya masih berada di atas angin. Belum lagi potensi keduanya kembali bertemu di Liga Champions musim ini? Menjadi sebuah episode panjang bagi Mourinho, apalagi bila ia kembali tersandung, entahlah bakal seperti apa perasaan eks juru taktik Chelsea itu. Mourinho memang sudah jauh-jauh hari mengapungkan target pribadi, yakni menjadi jawara di empat kompetisi liga berbeda setelah di Portugal, Inggris dan Italia. Dan di Spanyol, sang pelatih berharap dapat menggenapkan misi personalnya itu. Dalam beberapa tahun terakhir, Madrid sendiri sudah tak pernah lagi ditangani pelatih berprestasi sebelum masuknya rezim Mourinho. Yang paling terkenang jasanya mungkin Jupp Heynckes yang mengantar Madrid juara Liga Champions 1998, lalu ada Vicente del Bosque yang membukukan sejumlah torehan gelar beberapa tahun berikutnya sebelum dipecat dan masuk era Fabio Capello yang sanggup mempersembahkan gelar La Liga di musim 2006/07 sebelum akhirnya juga diberhentikerjakan. Bila berbicara era kepemimpinan Capello, pelatih yang satu ini juga boleh dibilang memiliki paham bermain yang sama dengan Mourinho. Mengandalkan permainan pragmatis, dan tidak memiliki gaya serta substansi taktik tersendiri. Gaya bermain seperti ini tidak merefleksikan Madrid sejatinya. Dan apa yang dilakukan Capello ini kembali terulang di bawah komando Mourinho. Tetapi yang perlu digarisbawahi, mungkin fans bakal mentolerir taktik permainan dengan minim penguasaan bola dan cenderung bertahan itu bila saja Madrid selalu mampu mengalahkan Barca secara reguler. Namun kenyataan tidak berbicara demikian. Masalahnya, penerapan strategi seperti itu selalu kandas kala menghadapi permainan Barca terlepas dari kesuksesan Madrid mengalahkan tim-tim yang lain. Celakanya, Barca malah semakin membabi buta tatkala sistem pragmatis itu dijalankan ketika menghadapi mereka. Jika taktik Madrid dipertahankan seperti ini sampai akhir musim, kemungkinan gelar La Liga bisa-bisa saja menjadi milik mereka, tapi sepertinya trofi tersebut tak lebih dari sekedar kado perpisahan The Special One untuk publik ibu kota. Mungkin para suporter Madrid di pengujung musim akan mempertanyakan satu keraguan besar mereka: gelar La Liga tapi kalah dari Barcelona, apa hebatnya, Madrid?

Sahabat Blogger

Put Link
 

Copyright © 2010 Youngster Blog

Template N2y Suka-Suka by Nano Yulianto